Daily Islam

Daily Syariah Temukan lebih banyak artikel tentang Islamic living, sistem syariah dan banyak lagi.

Daily Islam

Fakta Mengejutkan Tentang Riba : Kumpulan Hadits Tentang Riba

Riba adalah salah satu tindakan yang dilarang dalam agama Islam. Hal ini juga yang tengah diterapkan dalam prinsip ekonomi Islam. Ada banyak ayat Al-Qur’an ataupun hadits tentang riba yang bisa anda ketahui dan pelajari.  Namun, jika hadits tersebut masih belum ada yang anda ketahui. Maka, berikut kumpulan dalil dan hadits shahih tentang larangan riba. Tidak hanya larangan, namun efek samping dari praktik riba itu sendiri. Kumpulan Hadits Tentang Riba Larangan riba sudah jelas bisa anda temukan dalam syariat Islam. Sejatinya, riba memang merugikan salah satu pihak dan menguntungkan pihak lainnya. Jadi, sebisa mungkin praktik ini memang harus anda hindari.  Belum lagi, pembuktian dari ayat suci Al-Qur’an dan Hadits juga mengatakan hal serupa. Praktik ini sangat dibenci oleh Allah SWT. Larangan tentang riba bisa anda temukan pada hadits: عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ. وَقَالَ : هُمْ سَوَاءٌ Artinya: Dari Jabir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: “Rasulullah saw  melaknat pemakan riba, yang memberikannya, pencatatnya dan saksi-saksinya. Rasulullah SAW mengatakan, ‘mereka itu sama.” (HR. Muslim no. 1598). Dari hadits di atas, kita bisa menarik kesimpulan tentang larangan riba nyata adanya. Perdagangan, sistem jual beli harus anda lakukan dengan adil. Hal ini juga bisa kita ketahui dari:   اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ Artinya: Dari Ubadah bin Shamit (diriwayatkan bahwa) ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Emas dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam harus dengan jumlah yang sama dan dari tangan ke tangan (cash). Apabila terdapat perbedaan dalam hal macamnya, maka jualah terlebih dahulu lalu bayarlah (pertukaran tersebut) dengan cash (hasil dari penjualan tersebut).” (HR. Muslim no. 1587) Bahkan, tidak hanya dilarang, Rasulullah SAW juga telah mengelompokkan jenis-jenis riba. Hal tersebut tercantum pada: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَقُولُ : حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا رِبَا إِلَّا فِي النَّسِيئَةِ Artinya: Dari Ibnu Abbas (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Usamah bin Zaid telah bercerita padaku bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada riba kecuali pada riba Nasi’ah.” (HR. al-Bukhari no. 2178, Muslim no. 1596, an-Nasa’i no. 4580, Ibnu Majah no. 2257). Himbauan tentang larangan atas adanya praktik riba ini bisa dinetralisir dengan rezeki halal. Hal tersebut juga sudah diketahui semenjak zaman Rasulullah, berdasarkan hadits berikut: طعام الواحد يكفي الاثنين وطعام الاثنين يكفي الأربعة “Makanan satu orang dapat mencukupi dua orang, dan makanan dua orang dapat mencukupi empat orang.” (Riwayat ath-Thabrani, dan lain-lain). Riba adalah larangan dari Allah SWT. Dan sebagai salah satu umat yang bertaqwa, anda harus meninggalkan larangan tersebut. (إن الحلال بين، وإن الحرام بين، وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهنَّ كثير من الناس، فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه، ألا وإن لكل ملك حمى ألا وإن حمى الله محارمه. ألا وإن في الجسد مضغةً، إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب). رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya yang halal itu nyata dan yang haram itu nyata pula, dan antara keduanya (halal dan haram) terdapat hal-hal yang diragukan (syubhat), banyak orang yang tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menghindari syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjatuh ke dalam hal-hal syubhat, niscaya ia terjatuh ke dalam hal yang diharamkan. Perumpamaannya bagaikan seorang penggembala yang menggembala (gembalaannya) di sekitar wilayah larangan, tak lama lagi gembalaannya akan memasuki wilayah itu. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki wilayah larangan. Ketahuilah, bahwa wilayah larangan Allah adalah hal-hal yang Ia haramkan. Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging (jantung), bila ia baik niscaya seluruh jasad (raga) akan baik, dan bila ia rusak, niscaya seluruh jasad akan rusak pula. Ketahuilah, segumpal daging itu ialah jantung.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadits Terkait Hukuman dan Dosa Riba Tidak hanya kumpulan hadits tentang larangan praktek riba saja. Anda juga harus mengetahui apa saja dosa riba dan hukuman yang akan anda tempuh nantinya.  الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ “Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Al-Hakim, 2: 37). Bukankah dosa riba ini sangat mengerikan? Bahkan riwayat lain mengatakan: لأَنْ أَزْنِىَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِينَ زَنْيَةً أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ آكُلَ دِرْهَمَ رِباً يَعْلَمُ اللَّهُ أَنِّى أَكَلْتُهُ حِينَ أَكَلْتُهُ رِباً “Aku berzina sebanyak 33 kali lebih aku suka daripada memakan satu dirham riba yang Allah tahu aku memakannya ketika aku memakan riba.” (HR. Ahmad, 5: 225). Bahkan, Rasulullah juga pernah mengatakan jika harta yang anda dapatkan dari proses riba tidak berkah. Berapapun banyak dan bagaimanapun mudahnya, harta tersebut akan selalu sia-sia.  أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلاَّ كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ “Riba membuat sesuatu jadi bertambah banyak. Namun ujungnya riba makin membuat sedikit (sedikit jumlah, maupun sedikit berkah, -pen.).” (HR. Ibnu Majah, no. 2279; Al-Hakim, 2: 37). Kesia-siaan harta hasil riba juga bisa anda ketahui dari hadits berikut: أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا Artinya: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik).” (HR. Muslim). Bahkan, jika anda termasuk salah satu penikmat praktik riba. Maka, doa anda tidak akan terkabulkan oleh Allah SWT, sebagaimana tertulis di hadits: يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim, no. 1014) Bahkan, jika praktik riba ini telah merajalela. Maka, ini adalah salah satu tanda akhir zaman. Dan tentu saja akan ada banyak azab dan laknat sebagaimana sabda Rasulullah: إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan

Daily Islam

Belajar dari Keteladan Rasulullah dalam Berbisnis

Menjadi salah satu bagian dari umat Islam dan umat dari baginda Rasulullah SAW merupakan sebuah keistimewaan dan kebahagiaan tersendiri. Hal ini dikarenakan keteladanan Rasulullah SAW yang layak dicontoh, bukan hanya sekedar nabi terakhir atau penutup di muka bumi ini saja.  Rasulullah SAW membawa agama Islam sebagai agama cinta damai, mengajarkan kebaikan untuk para pengikutnya, jadi wajar meskipun sosoknya sudah wafat dari sejak lama tapi ajaran baiknya sampai saat ini selalu menjadi panutan dan contoh bagi seluruh umat Islam di dunia. Keteladanan Sifat Rasulullah Muhammad SAW Berikut ada beberapa keteladanan sifat nabi Muhammad SAW yang patut kita contoh, antara lain :  1. Berkata Jujur Salah satu keteladanan yang patut dicontoh dari Nabi Muhammad SAW adalah menyampaikan kebenaran atau jujur. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memiliki sifat Siddiq yang artinya benar. Seorang rasul tentu saja tidak akan pernah berbohong, dan selalu menyampaikan kebenaran. Semua ucapan dan perbuatannya adalah merupakan bentukan dari isi Al-Quran.  Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 59, yakni :  “Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allahdan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amr (Penguasa) di antara kamu. Jika kamu berselisih dalam sesuatu, rujuklah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih penting (bagimu) dan akibatnya lebih baik.” 2. Dapat Dipercaya Dapat dipercaya atau amanah. Ini artinya, perkataan rasulullah SAW bersifat dapat dipercaya, dan tidak pernah menipu. Saat berjanji, maka harus ditepati.  Rasulullah SAW merupakan sosok yang seringkali menunjukkan sifat amanah. Dari sejak kecil, Rasulullah SAW mempunyai kredibilitas tersebut. Bisa dikatakan bahwa saat beliau dikirim mengembala kambing, beliau selalu merawatnya dengan baik.  3. Cerdas dan Bijaksana Cerdas dan bijaksana adalah sifat Rasulullah SAW yang patut diteladani, biasanya dikenal dengan sifat fatonah. Ketika menghadapi tantangan, masalah, cobaan maupun ada tugas yang mesti diselesaikan, Rasulullah SAW selalu menghadapinya dengan bijak. Kecerdasan Rasulullah SAW selalu ditunjukkan di setiap keputusan dan tindakannya, entah itu ketika berdakwah maupun saat berperang. Berkat kecerdasanya inilah, Beliau sering menjadi teladan umat Islam untuk memecahkan permasalahan yang terjadi.  Jika dilihat dari sisi intelektual, Rasulullah SAW mahir berhitung, berbahasa, bersifat visioner, cerdas dan menghafal untuk memecahakn masalah.  Buktinya dapat terlihat saat Nabi mempersiapkan strategi dan menjadi pemimpin dalam perang badar. Pada waktu itu, Rasulullah hanya dapat memperkirakan banyaknya pasukan lawan hanya melalui jumlah unta dan kambing yang telah dibunuh oleh musuh atau lawan setiap harinya. Beliau adalah seorang pemimpin yang patut diteladani, karena sifatnya yang sangat cerdas.  4. Menyampaikan Kebaikan Sifat lainnya dari Rasulullah SAW yang patut diteladani adalah tabligh, yakni menyampaikan kebaikan. Rasulullah SAW harus menyampaikan apa yang perlu dikatakan. Sama seperti Rasulullah SAW, yang selalu menyampaikan wahyu dari Allah SWT dan tidak menyembunyikan hal apapun.    Baca Juga : Bisnis Lebih Berkah dengan Memahami Adab Jual Beli Dalam Islam Ini 6 Hadits Tentang Keutamaan Shalat Sunnah di Rumah   Keteladanan Rasulullah SAW dalam Berbisnis Selain keteladanan sifat Rasulullah SAW sebagai pemimpin, sebagai umat Islam kita juga harus meneladani sifat Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis. Berikut ini :  1. Berbisnis Dengan Kejujuran Nabi Muhammad SAW sudah belajar berdagang dari usia 17 sampai 20 tahun dengan salah seorang pedagang di Mekah. Akan tetapi, seluruh mitra dan rekan bisnis Rasulullah SAW telah mengakui keterampilan nabi dalam berbisnis, bahkan profesionalisme dan kejujurannya dalam berdagang sudah sangat terkenal. Selain itu, sebagai pebisnis yang jujur, di puncak kesuksesannya nabi Muhammad SAW telah memperoleh kepercayaan dari salah satu jamaah Mekah dalam mendirikan usaha, yakni Siti Khadijah. Penghasilan yang beliau dapatkan untuk mengantarkan barang milik Siti Khadijah sekitar 4 ekor unta setiap bulannya.  Melalui bisnis dan sistem kerjasama yang diarahkan Nabi Muhammad SAW lewat akad syirkah, adalah sistem bagi hasil dan sistem gaji bersama Siti Khadijah. Sehingga terbentuklah sistem ekonomi syariah, yang saat ini mulai banyak diterapkan.  2. Mengedepankan Kebaikan Akhlak dalam Berbisnis Rasulullah SAW tentu saja berakhlak paling mulia yang dapat dijadikan sebagai teladan para umatnya. Dalam berbsnis sekalipun, nabi Muhammad SAW selalu mengutarakan pendapat dengan baik, tidak pernah berperilaku kasar, tidak melakukan hal tercela, apalagi berteriak.   Rasulullah SAW bahkan tidak membalas orang-orang yang melakukan perbuatan buruk kepadanya. Justru sebaliknya, beliau selalu memberikan doa yang baik kepada orang yang sudah menganiayanya.  3. Berbisnis Dengan Kemurahan Hati Keteladanan Rasulullah SAW dalam berbisnis lainnya adalah nabi selalu berbisnis dengan kemurahan hati. Kerendahan hati adalah watak paling penting bagi setiap orang, sebab sifat seperti ini yang dapat menentramkan kehidupan dalam bermasyarakat, begitupun dalam berbisnis.  4. Memegang Amanah Dengan Baik Dalam berbisnis, Rasulullah SAW selalu memegang amanah dengan baik. Sifat amanah atau dapat dipercaya inilah kunci sukses Rasulullah dalam berdagang serta menjalin hubungan dengan masyarakat. Sehingga Rasulullah SAW selalu mendapat kepercayaan orang lain. Itulah beberapa keteladanan Rasulullah SAW yang patut kita contoh agar bisnis yang dijalani tidak hanya sukses, tetapi juga berkah.

Daily Islam

Tidak Hanya Nafkah! Ini Peran Ayah dalam Keluarga Menurut Islam

Peran ayah dalam keluarga menurut islam tidaklah hanya sebatas menafkahi anak, namun perannya lebih dari itu. Seorang ayah adalah sosok yang berperan sangat penting bagi keluarga. Ada beberapa ayat al qur’ an tentang peran ayah. Meskipun sebenarnya peran kedua orang tua sama pentingnya. Sebab orang tua bagi keluarga, entah itu Ibu maupun ayah mempunyai peran tersendiri dalam membimbing dan mengasuh anak-anak. Alangkah baiknya peran kedua orang tua tidak digantikan orang lain, termasuk pengasuh atau asisten rumah tangga. Untuk memahami bagaimana peran ayah dalam keluarga, berikut pembahasan lengkap beserta ayat al qur’an tentang peran ayah! Peran Ayah dalam Keluarga Menurut Islam Ada beberapa peran ayah dalam keluarga menurut Islam, di bawah ini :  1. Ayah Sebagai Pemimpin Keluarga Sosok ayah bagi sebuah keluarga ialah sebagai pemimpin keluarga, ia adalah pemimpin bagi istri maupun anak-anaknya. Allah SWT sejatinya menciptakan manusia sebagai pemimpin atau khalifah yang ada di uka bumi.  Berikut firman Allah SWT dalam surat Al-An’am ayat 165 :    وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ Artinya :  “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”   Setiap manusia telah dianugerahi kedudukan dalam memimpin, mempunyai kekuasaan dan mengatur di muka bumi. Walaupun demikian, menjadi seorang pemimpin tentu saja bukan hal mudah. Sebab setiap pemimpin, nantinya dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.    Sabda RAsulullah SAW : “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dan istri pemimpin terhadap keluarga, rumah suaminya, dan juga anak-anaknya, dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”   Berdasarkan hadits dan ayat Al-Quran di atas menjelaskan bahwa sosok ayah memiliki peran yang sangat penting sebagai seorang pemimpin dalam keluarga.  Tanggung jawab dan tugas seorang ayah sangat besar, sebab bukan saja menyangkut kehidupan yang ada di dunia melainkan juga kehidupan di akhirat. Sudah menjadi kewajiban jika seorang ayah harus selalu memastikan agar keluarganya selalu bebruat kebaikan.  Seperti yang tertuang pada surat Al-Zalzalah : 7-8, antara lain :  “Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.    2. Peran Ayah Sebagai Pendidik Menurut surat Al-Baqarah ayat 233 yang menceritakan kisah dari Nabi Nuh beserta anaknya, bisa kita pahami bahwa sosok ayah berperan sangat penting untuk mendidik anaknya.      Menurut ayat tersebut, ada 2 lafal yang dapat dijadikan sebagai sorotan, antara lain ya bunayya dan ibnahu. Menurut pendapat dari Quraish Shihab lewat tafsir al-Misbah, menjelaskan bahwa lafal dari ya bunayya berbentuk pengecilan atau tasghir berdasarkan pada lafal ibnu, artinya adalah anakku yang kecil/mungil. Yakni mendeskripsikan tentang sifat mungil dari anaknya. Dengan kata lain, dipakai untuk memanggil sang anak penuh kasih sayang.  Menurut kisah tersebut, anda bisa mengetahui bahwa untuk mengajak atau menasihati anak agar melakukan kebaikan, walaupun anak tersebut termasuk anak keras kepala atau durhaka, maka yang harus dilakukan adalah mendidiknya dengan lemah lembut, penuh kesabaran dan juga kasih sayang sesuai yang telah dicontohkan nabi Nuh AS.   Baca Juga : Parenting Islam : Cara Mendidik Anak Sesuai Metode Ajaran Islam Hadits Kemuliaan Ibu Hingga Kisah Teladan Uwais Al-Qarni Kumpulan Hadits Tentang Rumahku Surgaku Baiti Jannati   3. Ayah Sebagai Teladan Bagi Anak Peran Ayah dalam keluarga menurut Islam lainnya adalah menjadi teladan bagi anaknya, hal tersebut sesuai yang dicontohkan para sahabat nabi. Salah satunya adalah seperti yang dilakukan Abu Bakar Ahmad yang senantiasa selalu memantau pendidikan sang putri, bernama Amat as-Salam meskipun dirinya memiliki kesibukan sebagai seorang hakim. Contoh lainnya adalah dari Hakim Isa bin Miskin yang kerap memanggil dua orang putrinya usai mengerjakan sholat Ashar demi mengajari keduanya membaca A-Quran beserta ilmu pengetahuan yang lainnya. 4. Peran Ayah Dalam Menafkahi Keluarga  Peran penting sang ayah kepada keluarganya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya.  Dalam firmat Allah SWT, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.  Sebab itu, maka perempuan yang shalehah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa : 34). 5. Peran Ayah dalam Menentukan/Mencarikan Pendamping Anaknya Peran lainnya seorang ayah bagi keluarganya ialah menentukan atau mencarikan pendamping untuk anaknya yang baik. Memang, untuk urusan jodoh atau pendamping itu sendiri telah diatur Allah SWT. Akan tetapi, jika seorang ayah mempunyai anak perempuan dan sudah memiliki kemampuan menikah, tugas sang ayah adalah mencarikan pendamping bagi anaknya.   Kumpulan Ayat Al-qur’ an Tentang Peran Ayah Berikut ini adalah kumpulan ayat dalam al-quran mengenai peran ayah :  QS Lukman Ayat 16 Dalam surat lukman ayat 16, berbunyi :  يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ Artinya :  “(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (Sesuatu perbuatan) seberat biji sawi,dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus Lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman : 16).   QS Al-Baqarah 233 ۞ وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةٌۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦ ۚ وَعَلَى ٱلْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ

Daily Islam

Saking Ngerinya Jubb Al-Hazn ! Neraka Jahanam Berlindung Kepada Allah

Neraka adalah tempat yang paling ditakuti oleh seluruh umat Manusia. Sementara itu, tingkatan neraka yang paling mengerikan dan terburuk adalah neraka jahannam. Bahkan menurut banyak hadits ada satu tempat di neraka Jahannam paling mengerikan, yaitu lembah yang terletak di bagian dasar jahannam, yaitu Jubb Al-Hazn.  Apa Itu Jubb Al Hazn ? Jubb Al Hazn dapat diartikan sebagai Lembah Kesedihan, yakni tempat terburuk dari yang paling buruk. Jadi, jahannam ibarat sebuah lautan, sementara Jubb Al Hazn sebagai palungnya. Yakni di bagian terdalam dari jahannam.  Bahkan saking mengerikannya, neraka Jahannam sendiri berdoa langsung kepada Allah supaya terhindar dari Jubb Al Hazn hingga 70/100 kali setiap harinya (Hal ini sudah disebutkan dalam dua hadits, yaitu ada yang menyebutkan 100 dan ada yang menyebutkan 700).  Berikut riwayat Sufyan ats-TSauri dalam sabda Rasulullah SAW :    “Sesungguhnya di Neraka Jahannam ada sebuah lembah, dimana Jahannam itu sendiri setiap hari memohon perlindungan darinya (kepada Allah SWT) sebanyak 70 kali. Lembah tersebut dihuni oleh para qurra’ yang gemar mengunjungi para penguasa.”.   Berdasarkan hadits riwayat dari Tirmidzi yang berbunyi,   “Suatu ketika, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menceritakan kepada para sahabat beliau, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari Jubb Al-Hazn.” Selanjutnya, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah itu Jubb al-Hazn, wahai Rasulullah?” Lalu, Rasulullah SAW menjawab, “Jubb Al Hazn adalah lembah yang terdapat pada Neraka Jahannam. Setiap hari, jahannam sendiri memohon perlindungan darinya (Jubb Al-Hazn) sebanyak seratus kali.” “Wahai Rasulullah, siapa yang akan memasukinya?” “Para pembaca Al-Quran yang beramal karena pamrih (riya),”   Justru kerak neraka diisi orang-orang yang terlihat rajin beribadah saat mereka hidup di dunia. Orang-orang yang merdu dan fasih ketika membacakan al-quran, tapi sayang, ia menggunakannya hanya untuk mendapatkan pujian semata dari manusia. Semua keutamaan dan bacaan dalam membaca kitab suci Al-Quran tidak berguna lagi baginya, justru Allah SWT menempatkan mereka ke dalam posisi terendah bahkan yang paling menyakitkan hingga di bagian dasar neraka.  Jika keikhlasan merupakan kunci beribadah, maka riya bisa dikatakan sebagai pembakarnya.  Berdasarkan hadits di atas, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa penghuni neraka Jub Al Hazn justru dari orang-orang beriman, namun dalam hatinya telah terselip riya’. Dengan kata lain, saat beramal membaca kitab suci Al-Quran bukan semata hanya karena Allah Subhanahu wata’ala melainkan hanya karena ingin mendapatkan pujian semata dari sesamanya. Apabila jahannam saja hingga meminta perlindungan kepada Allah SWT dari Jubb Al-Hazn agar disingkirkan, maka bisa dibayangkan betapa mengerikannya para penghuni di dalamnya.     Kumpulan Hadits Tentang Lembah Neraka Jahanam Lembah neraka jahanam sebenarnya sudah dijelaskan pada beberapa hadits. Setidaknya terdapat dua riwayat hadits yang membahas tentang lembah neraka jahanam :  1. Hadits Pertama Tentang Jubb Al Hazn Menjelaskan tentang nama lembah dari neraka Jahannam, adalah Al-Wail. Berikut sabda Rasulullah SAW berdasarkan riwayat dari Abu Sa’id :    “Al-wail adalah nama sebuah lembah di neraka jahanam, orang kafir akan jatuh ke dalamnya selama empat puluh musim. (HR. Tirmidzi).   Namun hadits tersebut dilemahkan oleh Syekh Albani, “Hadits ini gharib (asing), kami tidak mengetahui kemarfu’annya kecuali dari hadits Ibnu Lahi’ah.” Akan tetapi, keterangan dari Imam Tirmidzi tersebut dibantah oleh Abu Ishaq Al-Huwaini pada kitab Tanbiihul Hajid (I/345). Beliau mengatakan bahwa yang telah meriwayatkan hadits tidak hanya dari Ibnu Lahi’ah.  Ada beberapa yang juga menceritakan tentang hadits tersebut, antara lain Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abi Dunya, Nu’aim bin Hamad, Ibnu Mubarak, Ibnu Hibban, Baihaqi, Hakim, dan Ibnu Jarir. Bahkan dalam tafsirnya, Ibnu Katsir ikut berkometar, bahwa “Bukan hanya Ibnu Lahi’ah yang meriwayatkan hadits ini.”   Baca Juga : Ini 6 Hadits Tentang Keutamaan Shalat Sunnah di Rumah Hadits Kemuliaan Ibu Hingga Kisah Teladan Uwais Al-Qarni   2. Hadits Kedua Jubb Al Hazn Ada hadits yang menyatakan bahwa lembah neraka jahannam biasanya disebut juga untuk menunjukkan sebuah siksaan. Pada suatu hari, Rasulullah SAW berkata ke para sahabatnya, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari Jubbil Hazn.” Kemudian sahabat nabi bertanya, “Apa itu Jubbil hazn wahai Rasulullah?”, lalu beliau menjawab pertanyaan para sahabat :    وَادٍ فِي جَهَنَّمَ تَتَعَوَّذُ مِنْهُ جَهَنَّمُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ “Sebuah lembah di neraka Jahanam, sementara neraka Jahanam sendiri berlindung darinya setiap hari sebanyak seratus kali.” Lalu, sahabat nabi melanjutkan pertanyaannya kembali :  يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَدْخُلُهُ “Dan siapakah yang akan memasukinya?” Beliau pun menjawab :  الْقُرَّاءُ الْمُرَاءُونَ بِأَعْمَالِهِمْ “Para pembaca Al-Quran yang memamerkan perbuatan mereka.”(HR. Tirmidzi).    Berdasarkan hal tersebut, ternyata lembah dari neraka jahanam bahkan berlindung dari Jubbil Hazn, lembah neraka ini diperuntukkan kepada mereka yang gemar membaca Al-Quran namun bacaannya bukan semata karena Allah ta’ala melainkan hanya untuk riya’ atau pamer dan mengharap pujian manusia. Lantas, bagaimana dengan status hadits tentang Jubbil Hazn atau Jubb Al Hazn ini? Melalui kitab Takhriij Ahaadiits al-ihyaa (I:1919), Zainnudin Al-’Iraqi turut mengomentari hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini diriwayatkan Ibnu ‘addy dengan lafal ‘Wadil-huzni’ yakni Lembah Kesedihan. Ia mengatakan bahwa hadits ini bersifat bathil. Abu Nu’aim Al ishfahani pun turut meriwayatkan hadits tersebut, beliau berkata bahwa status riwayatnya tergolong lemah. Sedangkan Imam Tirmidzi mengungkapkan bahwa hadits tersebut Gharib atau asing dan termasuk ke dalam hadits lemah menurut timbangan pada ilmu hadits.” Syekh Nashiruddin Al-Bani juga ikut menjelaskan bahwa hadits tersebut lemah. Hal tersebut dapat dibaca melalui kitabnya “Misykatul Mashabih”, “Dha’if al-Jaami’ ash-Shaghir”, “Dha’ifut Targhib Wat Tarhiib”, dan “Dha’if Sunan At-Tirmidzi.” Walaupun hadits tersebut lemah, namun bukan berarti membenarkan membaca kitab suci Al-Quran bukan karena Allah SWT melainkan karena riya’. Sebab mereka yang membaca kitab suci Al-Quran karena pamer atau riya’ adalah perbuatan yang sangat tercela. “Wallahu alam bishowaab.”

Daily Islam

Hadits Kemuliaan Ibu Hingga Kisah Teladan Uwais Al-Qarni

Ibu merupakan sosok yang sangat dihormati, bahkan agama Islam sendiri sangat memuliakan sosok ibu, terbukti dengan banyaknya hadits yang membahas kemuliaan seorang ibu.  Hal ini wajar, mengingat menjadi seorang ibu bukan hal yang mudah, tugas seorang ibu penuh tantangan. Mulai dari hamil dan mengandung sembilan bulan, kemudian melahirkan, serta mendampingi anak-anak sampai tumbuh dewasa dan mandiri. Mengingat sosoknya yang sangat penting inilah, Islam begitu memuliakannya. Bahkan di Indonesia sendiri, tanggal 22 Desember telah ditetapkan sebagai tanggal memperingati hari Ibu yang sudah diresmikan oleh Presiden Soekarno. Menggali Hikmah dari Hadits Kemuliaan Ibu Berikut ini ada beberapa kumpulan hadits kemuliaan seorang ibu yang perlu kita pelajari dan pahami :  1. Hadits Berbuat Baik Terhadap Ibu Doa yang ibu panjatkan untuk kita tidak akan pernah putus. Maka dari itu, sebagai anak kita sudah sepatutnya berbakti kepada Ibu. Ada salah satu hadits yang menganjurkan kita untuk berbuat baik kepada ibu, dengan bunyi berikut :    نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ Artinya : “Sesungguhnya Allah berwasiat sebanyak 3 kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungghnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerapat yang paling dekat kemudian yang dekat.” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan sawahid-nya).   2. Penyebutan Nama Ibu Sebanyak 3 Kali Oleh Rasulullah SAW, Kemudian Ayah Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’anhu bertanya pada Rasulullah SAW :  يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ Artinya :  “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan). 3. Ibu Orang Paling Layak Mendapat Perlakuan Baik Imam Muslim melalui shahih-nya telah mengeluarkan hadits panjang tentang kisah Juraij. Jadi intinya adalah saat Juraij dipanggil ibunya, sementara ia sedang menunaikan shalat, maka ia lebih mementingkan melanjutkan shalatnya.  Sementara, panggilan dari ibunya tidak ia penuhi. Kemudian sang ibu mendoakan tentang keburukan kepada anaknya Juraij dan doa tersebut terkabul.  Melalui Ryarah Muslim, Imam An Nawawi menjelaskan bahwa para ulama mengemukakan bahwa dalil yang benar ialah memenuhi panggilan dari ibu, sebab yang dilakukan oleh Juraij adalah shala sunnah.  Dengan terus menunaikan shalat hukumnya adalah sunnah, dan tidak wajib. Sementara menjawab panggilan dari ibu serta berbuat baik terhadapnya adalah wajib, apalagi mendurhakai ibu adalah haram.  Para ulama menyimpulkan berdasarkan beberapa dalil, dengan mengatakan :    الأم أحق الناس بحسن الصحبة “Ibu adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan perlakuan yang baik.”   4. Surga di Telapak Kaki Ibu Hadits lainnya mengenai kemuliaan Ibu, menjelaskan bahwa sebagai seorang anak, sudah kewajiban kita untuk selalu berbakti dan menghormati ibu dengan tulus. Mungkin kita sering mendengar kutipan “Surga di telapak kaki Ibu”, sebenarnya kutipan tersebut adalah hadist dari riwayat An-Nasa’i, Ibnu Majah, Aht-Thabarani, dan imam Ahmad dengan bunyi :    “Bahwasanya ia (Mu’awiyah binj Jahimah) datang kepada Nabi Muhammad SAW, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan aku datang untuk meminta petunjukmu.’ Nabi Muhammad SAW bersabda. ‘Apakah engkau memiliki ibu?’, ‘Iya’. ‘Menetaplah dengannya, karena sungguh surga di bawah kedua kakinya.”   5. Dikenal Penduduk Langit Kerena Berbakti Kepada Ibu Salah satu kisah yang sangat menginspirasi adalah tentang kisah seorang pemuda bernama Uwais Al Qorni yang bahkan membuat sahabat Nabi, Ummar Bin Khatab Ra mendapatkan anjuran dari Rasulullah SAW agar menemui Uwais. Tentu saja bukan tanpa alasan, hal ini karena kehebatan dari birrul walidain Uwais kepada Ibunya. Berikut sabda Rasulullah SAW :    إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم Artinya :  “Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian” (HR. Muslim).   Baca Juga Kumpulan Hadits Lainnya : Kumpulan Hadits Tentang Rumahku Surgaku Baiti Jannati Ini 6 Hadits Tentang Keutamaan Shalat Sunnah di Rumah   Kisah Uwais Al Qarni yang Menggendong Ibunya Untuk Naik Haji Untuk lebih memahami arti kemuliaan seorang ibu, kita akan bercerita tentang kisah dari Uwais al Qarni yang menggendong sang ibu naik haji ke Mekkah dari Yaman. Berkat ketaatan dan baktinya kepada sang ibu, Rasulullah SAW menyebut Uwais sebagai seorang penghuni langit. Bahkan menyematkan dirinya sebagai seorang pemimpin dari para tabiin.  Abu Amru Uwais bin Amir bin Jaza Al-Qarni Al-Muradi Al-Yamani, adalah nama lengkap dari Uwais Al-Qarni, yaitu penduduk di Yaman dari Qaran, ia telah lahir tahun 594 Masehi. Kemudian meninggal pada 657 M, lalu dimakamkan di daerah Raqqah, Suriah. Bahkan dirinya juga sempat ikut perang Shiffin.  Memang Rasulullah SAW sendiri belum pernah bertemu Uwais pada saat itu. Tapi, nama Uwais sering disebut-sebut Rasulullah SAW.  Di zaman Rasulullah SAW itulah Uwais hidup serta tinggal bersama ibunya di Yaman. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Uwais baru dapat mewujudkan mengantar ibunya untuk menjalankan ibadah haji ke Mekkah.  Ia bahkan mendapat ujian mengalami penyakit sopak. Pada saat itu, seluruh tubuh Uwais belang-belang akibat penyakit sopak. Sedangkan ibunya sedang sakit lumpuh dan sudah tua, tapi ia senantiasa terus merawat sang ibu penuh kesabaran. Uwais juga selalu berusaha untuk memenuhi seluruh permintaan dari sang ibu. Namun hanya ada satu permintaan ibunya yang belum bisa dikabulkan serta kesulitan memenuhinya. Pada suatu hari, Ibu Uwais berkata, “Wahai, anakku Uwais! Aku mungkin tidak akan bisa berlama-lama bersamamu lagi. Tolong, ikhtiarkan supaya ibu bisa menjalankan ibadah haji.” Usai mendengar perkataan dan permintaan sang ibu, Uwais akhirnya termenung dan terdiam diri sembari memikirkan bagaimana cara untuk menunaikan keinginan ibunya agar dapat menjalankan ibadah haji. Tentu saja ia tidak mungkin memakai keledai maupun unta, karena tidak memiliki biaya. Akhirnya, terbesitlah untuk menggendong ibunya ke Mekkah, dari Yaman, tepatnya di Al Qarn. Padahal jarak yang harus ditempuh dari Yaman ke Mekkah

Daily Islam

Ini 6 Hadits Tentang Keutamaan Shalat Sunnah di Rumah

Shalat sunnah lebih utama dikerjakan di rumah. Hal ini dikarenakan,pahala dan derajat menjalankan shalat sunnah sendiri di rumah lebih besar. Selain itu, terhindar dari yang namanya riya’ serta sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.  Melaksanakan Sholat sunnah memerlukan istiqamah dan keikhlasan. Akan tetapi, tidak semua umat Muslim bisa istiqamah dalam menjalankan sholat sunnah, lain halnya jika Allah SWT selalu membimbing dan meridhai seseorang. Kumpulan Hadits Keutamaan Shalat Sunnah di Rumah Berikut ini kumpulan hadits keutamaan shalat sunnah di rumah, antara lain :  1. Sebaik-baiknya Shalat Sunnah adalah di Rumah Keutamaan mengerjakan shalat sunnah di rumah, tertuang dalam hadits berikut :    عن زيد بن ثابت رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال : (( عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الصَلَاةَ المَكْتُوْبَةَ )) Sabda Rasulullah SAW dari Zaid bin Tsabit ra, “Hendaknya kalian mengerjakan shalat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baiknya shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat maktubah (fardhu). (HSR Al-Bukhari no.5672 dan Muslim no.781)   Berdasarkan hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa shalat sunnah lebih utama dikerjakan di rumah dibandingkan dikerjakan di dalam masjid.  2. Pahala Shalat Sunnah di Rumah 25 Kali Lipat Shalat Sunnah di Masjid Selain hadits di atas, Rasulullah SAW juga bersabda,    “Shalat sunnah yang dikerjakan seseorang tanpa dilihat orang lain sebanding dengan dua puluh lima (kali) shalat (sunnah) yang dikerjakan di hadapan orang lain”. (HR. Abu Ya’la dari Shuhaib bin Sinan, Syaikh Albani menghukuminya sebagai hadits shahih dalam Shahihul Jami no.3821).   Berdasarkan hadits diatas dapat disimpulkan terkait faedah dan keutamaan shalat sunnah di rumah, yaitu ibadah shalat sunnah di rumah memiliki pahala 25 kali lipat daripada shalat yang diketahui orang lain atau di masjid.  Sebab, semakin sholat kita tersembunyi saat melaksanakannya maka akan dijauhkan dari riya’. Sementara itu, ibadah wajib seperti shalat fardhu, disyariatkan memperlihatkan syiar-syiar agama Islam, maka dari itu sudah selayaknya dikerjakan terang-terangan.   Baca Juga : Kumpulan Hadits Tentang Rumahku Surgaku Baiti Jannati Membangun Rumah Ideal Menurut Islam   3. Jangan Menjadikan Rumah Seperti Kuburan   وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : ((  اِجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ ، وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْراً )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ   Dari Ibnu ‘Umar ra, sabda Rasulullah SAW, “Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. (Muttafaqun ‘alaih). (HR. Bukhari, no. 432 dan Muslim, no.777). Berdasarkan hadits di atas, dapat disimpulkan faedah dari hadits, yaitu rumah yang di dalamnya tidak ada aktivitas shalat dari para penghuninya, maka seolah-oleh penghuninya ialah penghuni kubur. Maka dari itu, kita harus menegakkan shalat sunnah di dalam rumah. Agar rumah selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT. 4. Mengerjakan Sholat Sunnah di Rumah Lebih Disukai Rasulullah SAW Abdullah bin Mas’ud ra, pernah bertanya langsung kepada Rasulullah SAW mengenai shalat di madjid dan di rumah. Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, “Tentang shalat di rumah dan shalat di masjid, sungguh kamu telah melihat kedekatan rumahku dengan masjid, Dan mengerjakan shalat di rumahku lebih aku sukai daripada mengerjakan shalat di masjid, kecuali shalat fardhu. 5. Rumah Selalu Bercahaya Rasulullah SAW bersabda,    مَثَلُ البَيْتِ الَذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالبَيْتِ الذِي لَايُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ كَمَثَلِ الحَيِّ وَالمَيِّتِ “Perumpamaan rumah yang disebut Anama Allah di dalamnya, dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati”.   6. Menjauhkan Setan dan Mengusirnya dari Rumah Setan adalah musuh terbesar manusia yang kerap mengajak manusia untuk berbuat buruk. Dengan menjalankan sholat sunnah di dalam rumah, maka rumah akan dijauhkan dari setan.  Berikut dalam sabda Rasulullah.   لاَتَجْعَلُوْا بَيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ البَيْتِ الَذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةَ البَقَرَةِ “Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan shalat dan membaca Al-Quran di dalamnya). Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah”.   Berdasarkan hadits di atas ada anjuran agar kita memperbanyak dzikir menyebut nama Allah di rumah. Tujuannya adalah agar rumah selalu bercahaya dan hidup sekaligus dapat dijadikan sebagai motivasi bagi penghuninya agar rajin beribadah dan taat kepada allah SWT.. Faedah Menjalankan Sholat Sunnah di Rumah Berdasarkan kumpulan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa faedah dan keutamaan menjalankan sholat sunnah di dalam rumah adalah sebagai berikut :  Mengikuti ajaran dan anjuran dari Rasulullah SAW.  Lebih ikhlas serta dapat menjauhkan diri dari riya’. Setan dapat menjauhi rumah yang penghuninya rajin mendirikan sholat maupun dzikir. Mengajarkan istri, sebab shalat terbaik bagi wanita adalah di dalam rumah dan juga anak-anak dengan membimbing mereka cara sholat yang baik dan benar. Dengan banyaknya keutamaan dan faedah mengerjakan sholat sunnah di dalam rumah, maka sudah semestinya kita mengikuti anjuran Rasulullah SAW untuk mengerjakan sholat sunnah agar rumah senantiasa lebih tentram.

Daily Islam

8 Keutamaan Puasa Ramadhan dan Dalilnya yang Perlu Anda Tahu!

Puasa dibulan Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar. Meskipun demikian, banyak umat Muslim yang belum mengetahui keutamaan menjalankan ibadah bulan puasa Ramadhan. Puasa di bulan suci Ramadhan adalah salah satu bentuk ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh umat Muslim di setiap tahunnya. Pengertian puasa Ramadhan, yaitu bukan hanya menahan lapar dari makan dan minum saja, tetapi juga harus menahan nafsu dari hal-hal yang membatalkan puasa. Biasanya ibadah puasa dilakukan setiap memasuki bulan suci Ramadhan selama 1 bulan (29-30 hari) lamanya. 8 Keutamaan Puasa Ramadhan dan Dalilnya Ada banyak keutamaan yang bisa anda raih jika menjalankan puasa di buan suci Ramadhan, antara lain : 1. Penghapus Dosa Jenis ibadah apapun yang anda kerjakan di bulan suci Ramadhan, dapat menghapus dosa. Bahkan dosa yang dihapuskan mulai dari Ramadhan yang sebelumnya sampai bulan Ramadhan pada saat ini.  Bukan hanya itu saja, Allah SWT juga akan menghapus dosa-dosa Ummat-Nya yang lalu di bulan ramadhan. Hal tersebut didapatkan jika kita semua menjalankan ibadah atas dasar iman karena Allah Ta’ala.  2. Waktu Istimewa Dikabulkannya Doa Berbeda dari bulan lainnya, menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan juga memiliki beberapa waktu mustajab dalam berdoa, seperti pada saat menjelang berbuka. Selain itu, waktu berpuasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari juga termasuk waktu mustajab berdoa.  Dengan kata lain, jika kita sering-sering berdoa pada saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, maka Allah SWT akan mengabulkan doa-doa tersebut. Insyaa Allah. Berdasarkan hadits Rasulullah SAW dalam riwayat HR Tirmidzi,   ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُو “Tiga orang yang doanya tidak tertolak : Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang terdzalimi.” (HR Tirmidzi)   3. Dua Kegembiraan Keutamaan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan lainnya ialah orang berpuasa memperoleh dua kegembiraan. Hal ini, sebagaimana yang telah dituangkan dalam hadits Rasulullah SAW dari Muttafaq ‘Alaih berikut :    لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, ketika berbuka dia gembira dengan bukanya dan ketika bertemu Tuhannya ia gembira dengan puasanya.”   Jadi, yang dimaksud dengan dua kegembiraan adalah ketika berbuka, maka rasa haus dan lapar yang telah ditahan seharian bisa hilang seketika. Tidak hanya itu, waktu-waktu paling nikmat ialah saat teugkan pertama pada waktu berbuka. Maka rasa panas akibat dehidrasi akan terobati ketika berbuka. Selain itu, kenikmatan tersebut tidak akan pernah dapat dirasakan saat tidak berpuasa. Begitu juga kegembiraan saat bertemu dengan Allah SWT di akhirat. Semua kekhawatiran dan ketakutan akan sirna sebagaimana rasa lapar dan haus yang sirna ketika berbuka. Semua penderitaan dan kesusahan semasa hidup akan hilang seperti hilangnya rasa panas ketika berbuka.   Baca Juga : Kumpulan Ucapan Menyambut Ramadhan Islami 2024 Terbaru   4. Pahala Tidak Terbatas Keutamaan berpuasa lainnya ialah pahala tidak terbatas. Apabila ibadah yang lainnya sudah Allah SWT sebutkan pahalanya, sementara pahala berpuasa akan diberikan Allah langsung tanpa diberitakan batasan pahalanya terlebih dahulu. Analoginya, seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan sudah disebutkan besar gajinya sekian, oleh karenanya ia dapat memperkirakan hasil yang didapatkannya. Akan tetapi, ketika bos atau owner perusahaan mengatakan “kamu bekerjalah, saya akan langsung memberikan gajimu”. Jika demikian, bisa saja hasil yang ia peroleh di luar dugaan, tergantung dari bagaimana kinerja yang dilakukannya.  5. Masuk Surga Hebatnya lagi, keutamaan berpuasa lainnya ialah bisa memasukkan kita semua ke dalam syurganya Allah SWT. Hal ini juga telah tertuang dalam hadist berikut :    عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ مُرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ. قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ . ثُمَّ أَتَيْتُهُ الثَّانِيَةَ فَقَالَ عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ Abu Umamah berkata : “Saya datang kepata Rasulullah SAW, maka saya berkata : “Perintahkan kepada saya dengan sebuah amal yang bisa memasukkan saya ke dalam syurga!” Lalu, Beliau menjawab : “Berpuasalah, sesungguhnya tiada tandingan baginya” Lalu saya datang lagi kedua kalinya, dan Beliau berkata : “Berpuasalah.”  (HR. Ahmad, Nasa’i dan Hakim menshahihkannya)   Berdasarkan hadist di atas, bahwa dengan berpuasa di bulan suci Ramadhan maka jaminannya adalah syurga Allah. 6. Menjauhkan dari Api Neraka Berpuasa di bulan suci Ramadhan juga dapat menjauhkan kita semua dari api neraka. Bahkan, satu hari kita berpuasa nilainya sama seperti penambahan jarak hingga sejauh 70 musim dari api neraka. 7. Sebagai Perisai Berpuasa juga dapat menjadi perisai bagi kita dari perbuatan yang buruk, bahkan perisai dari neraka. Dengan kata lain, puasa bisa melindungi kita di dunia maupun di akhirat. Di dunia kita akan terlindungi dari godaan syahwat terlarang ketika berpuasa. Sedangkan di akhirat, puasa dapat dijadikan sebagai perisai dari panasnya api neraka saat hari kiamat.  8. Menjadi Sehat Dengan berpuasa Ramadhan maka tubuh akan terasa lebih sehat. Hal ini juga sudah tertuang dalam hadits riwayat Abu Nu’aim dan Ibnu Suni, berdasarkan sabda Rasulullah SAW,  “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu’aim). Itulah keutamaan puasa Ramadhan dan dalilnya yang bisa kita dapatkan. Semoga kita senantiasa selalu istiqomah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Daily Islam

Bisnis Lebih Berkah dengan Memahami Adab Jual Beli Dalam Islam

Jual beli dalam Islam disebut sebagai istilah Al ba’i yang artinya memindahkan kepemilikan atas suatu benda berdasarkan akad tukar menukar atau saling mengganti. Agar jual beli menjadi berkah, anda harus memperhatikan adab jual beli dalam Islam. Dikutip dari laman Muhammadiyah, menurut mahzab Hanafi, istilah jual didefinisikan sebagai aktivitas pertukaran harta menggunakan metode tertentu. Sedangkan mahzab Syafi’i menjelaskan bahwa jual beli adalah pertukaran atas harta dengan harta yang lain, keduanya bisa dikelola, bahkan dilengkapi ijab kabul dengan cara sesuai syariat. Menurut Al-Quran, Ijmak Ulama dan Sunnah, hukum asal dari transaksi jual beli ialah mubah. Kebalikan dari jual beli adalah perbuatan riba, sebagai aktivitas yang diharamkan dalam Islam. Dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ Yang Artinya : “Allah telah menghalalkan transaksi jual beli, dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah : 275). Terapkan Adab Jual Beli dalam Islam Agar Berkah Setiap umat manusia yang ada di muka bumi mempunyai cara atau peraturan yang baik supaya teratur. Hal ini juga berlaku pada transaksi jual beli, antara pembeli dan penjual harus mempunyai adab yang baik. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya agar melakukan transaksi berdagang sesuai etika Islam. Simak, adab jual beli dalam Islam yang harus dipenuhi oleh kita sebagai umat Muslim, diantaranya : 1. Rukun Jual Beli Harus Dipenuhi Jual beli dalam Islam dianggap sah jika rukunnya sudah terpenuhi. Ada 3 macam rukun jual beli yang wajib dipenuhi, diantaranya : Ada pembeli dan penjual (Aqidain). Ucapan telah terjadi serah terima barang antara pembeli dan penjual (ijab kabul) Ada barang yang akan ditransaksikan (ma’qud alaih). 2. Tidak Menjual Barang Haram Islam mengharamkan untuk menjual barang-barang yang diharamkan, Dengan kata lain, transaksi jual beli menjadi tidak sah apabila menjual barang haram. Hal ini tertuang dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli bangkai, khamar (minuman keras), dan berjala.” (Muttafaqun alaihi). Berdasarkan dalil di atas, sesuatu yang telah diharamkan dalam transaksi jual beli menurut Islam adalah bangkai, minuman keras atau khamar, darah, anjing, babi, dan semua yang diharamkan. 3. Lakukan Jual Beli Secara Jujur Dalam bertransaksi jual beli, penjual harus jujur atau terbuka atas barang yang diperjual belikan. Sikap terbuka ini merupakan cara yang dilakukan penjual supaya pembeli bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan barang yang akan mereka beli. Melalui sifat yang jujur dan terbuka ini, pembeli tidak merasa menyesal atau tertipu telah membeli barang dari penjual. Sebisa mungkin penjual memberlakukan pembeli dengan baik dan harus dilayani sebaik mungkin, tujuannya biar keduanya sama-sama nyaman dalam bertransaksi. Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا “Dua orang yang bertransaksi jual-beli itu punya hak khiyar (memilih) selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menerangkan (apa adanya), keduanya akan diberi berkah dalam jual belinya. Namun, apabila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat), akan dihilangkan keberkahan jual-beli atas keduanya,” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud).   Baca Juga : Macam Macam Akad Transaksi Muamalah Dalam Ekonomi Syariah Islam Memahami Syarat dan Rukun Jual Beli Dalam Islam Mengenal Bahaya Riba Dalam Islam dan Cara Mengatasinya   4. Memasang Foto Produk yang Sebenarnya Jika anda menjual barang online, maka foto barang yang anda jual harus sesuai wujud aslinya. Anda harus mengunggah foto produk sebenar-benarnya tanpa editing yang bisa mengubah bentuk atau wujud dari produk tersebut. Adab jual beli ini telah dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW, “Janganlah kamu membeli ikan di dalam kolam, karena sesungguhnya di dalamnya terdapat unsur penipuan.” (HR.Ahmad). 5. Menjelaskan Kondisi Produk yang Sebenarnya Sebagai penjual, anda harus menjelaskan kondisi produk yang sebenar-benarnya, agar pembeli tidak merasa dirugikan. Jika anda menemukan ada cacat produk, pastikan untuk menjelaskan kondisinya kepada pembeli, supaya keduanya ikhlas dan sama-sama menerima. Sabda Rasulullah SAW, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada saudaranya, kecuali jika dia jelaskan.” (HR. Ibn Majah 2246, Al-hakim) 6. Tidak Mematok Harga Tidak Wajar Sebenarnya tidak masalah jika menaikkan harga menyesuaikan dengan kondisi perekonomian sekarang  asalkan masih sesuai dengan harga pasaran. Akan tetapi, jangan mematok harga yang tidak wajar sampai menyusahkan pembeli, sebab perbuatan ini diharamkan. Menurut syariat Islam, menaikkan harga terlalu tinggi dinamakan najasy, yang artinya penjual telah mengambil untung lebih dari yang semestinya. Menurut sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, “Janganlah kalian membeli ikan di dalam kolam, karena sesungguhnya di dalamnya terdapat unsur penipuan.” (HR. Ahmad). Jika anda ingin mendapatkan rezeki yang berkah dengan berjualan, maka harus patuhi 6 adab jual beli dalam Islam di atas. Dengan menjalankan adab-adab di atas, selain mendapatkan keberkahan juga membuat pembeli merasa nyaman dan tertarik untuk berbelanja kembali.

Daily Islam

Cuan Lebih Banyak, Investasi Tanah Kavling Syariah Jadi Pilihan Terbaik

Investasi tanah kavling banyak diminati karena terbukti menjanjikan keuntungan tinggi. Ada banyak model ragam investasi tanah kavling yang ditawarkan saat ini, mulai dari ragam konsep hingga ragam skema pembayaranya. Salah satu yang sedang banyak diminati adalah investasi tanah Kavling syariah. Apa Itu Investasi Tanah Kavling ? Tanah Kavling merupakan tanah yang telah diatur berupa petakan-petakan dengan ukuran yang telah ditentukan. Ukuran tanah kavling sangat beragam tergantung dari developer atau tergantung ketersediaanya. Tanah kavling secara fungsi dapat digunakan untuk beragam tujuan sesuai dengan lokasi dan kebutuhanya. Berinvestasi tanah kavling menjadi alternatif untuk anda yang ingin membeli tanah dalam ukuran tidak terlalu luas. Investasi tanah kavling dengan skema syariah bisa menjadi pilihan yang tepat bagi anda yang menginginkan transaksi tanpa riba. Tidak hanya bertransaksi tanpa riba, skema syariah kini diminati karena akad transaksi syariah memiliki benefit yang menguntungkan bagi para pembeli. Untuk lebih lengkapnya berikut adalah berbagai keuntungan dan manfaat yang akan Anda dapatkan. Keuntungan Investasi Tanah Kavling Syariah Seperti yang telah ditekankan sebelumnya, jenis tanah kavling model ini tidak mengandung unsur riba dalam pembayarannya. Ini tentunya bisa menjadi pilihan yang tepat untuk Anda yang beragama Islam, khususnya yang ingin menghindari transaksi yang dilarang oleh agama. Berikut adalah keuntungan lain yang akan Anda dapatkan, diantaranya : Prinsip Kekeluargaan dalam Perjanjian Keuntungan berinvestasi tanah kavling syariah lainya adalah tidak ada penyitaan dilakukan pada tanah kavling jika anda mengalami kendala dalam pembayaran angsuran bertahap. Semua masalah pembayaran yang terhambat, bisa diselesaikan dengan prinsip kekelurgaan sesuai dengan perjanjian. Akad Transaksi Transparan Transaksi yang dilakukan dengan model syariah tidak memiliki akad bathil di dalamnya. Dengan begitu, semua transaksi bersifat transparan dan sesuai dengan hukum Islam, sehingga tidak menimbulkan keraguan ketika pembayaran. Bebas Denda dan Penalty Benefit yang bisa anda dapat dari sistem syariah adalah tidak ada denda maupun penalty. Ini tentu sangat memudahkan anda jika ingin melunasi angsuran secara sekaligus, sebab benefit tanpa penalty yang diterapkan dalam transaksi syariah. Transaksi Sesuai Syariat Semua transaksi yang dilakukan dalam berinvestasi tanah kavling syariah sesuai dengan jalur hukum dan syariat dalam Islam. Metode pembayaran yang disediakan juga bisa dipilih, bisa bagi modal ataupun bagi keuntungan. Transaksi Mudah dan Tidak Memberatkan Transaksi yang dilakukan tidak akan memberatkan, sebab DP yang diberikan besar dengan cicilan yang lebih ringan. Tidak adanya bunga atau denda juga membuat transaksi lebih terjangkau. Dengan berbagai keuntungan tersebut, sayang jika Anda tidak melakukan investasi tanah kavling syariah maupun perumahan syariah sedini mungkin. Sebab keuntungan yang akan Anda dapatkan ke depannya akan makin besar. Prospek Kenaikan Harga Tanah Per Meter Keuntungan berinvestasi tanah adalah dari harga tanah per meter yang terus meningkat tiap tahunnya. Pada umumnya, kenaikan harga tanah berkisar 5% sampai 20% tiap tahunnya. Kenaikan itu cukup besar, terlebih jika anda memilih tanah kavling dengan prospek yang bagus, sebab kenaikan harga tanah banyak dipengaruhi oleh prospek kawasan pendukung disekitar lokasi tanah. Jika anda ingin mengetahui harga tanah terkini anda bisa Cek Harga Tanah Per Meter Jabodetabek Termurah 2022.   Baca Juga : Prospek Investasi Tanah Terbukti Sangat Menguntungkan Ini Dia ! Tempat Healing di Bogor Paling Populer Siap Go Nasional ! ABPEDNAS Dorong Granada Land Jadi Percontohan Desa di Indonesia   Resiko Investasi Tanah Selain keuntungan besar, Investasi tanah juga memiliki resiko seperti halnya jenis investasi lainnya. Namun pasti terdapat kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan jenis investasi lainnya. Apakah resiko investasi tanah juga setimpal dengan keuntunganya ? simak ulasan dibawah ini. Tak Banyak Skema Kredit dalam Investasi Tanah Memang tidak banyak tersedia skema ini, namun anda tidak perlu khawatir, sebab kami memiliki solusi yang memudahkan anda sekaligus menguntungkan anda dalam berinvestasi tanah. Isykariman Property Syariah menyediakan skema pembayaran syariah untuk anda yang ingin berinvestasi tanah. Dengan skema syariah, anda memiliki kemudahan transaksi yang dilengkapi dengan akad transaksi yang adil dan tidak merugikan anda. Apakah Investasi Tanah Memerlukan Modal Besar ? Modal besar dan kecil sebenarnya suatu hal yang relatif, tergantung pada kemampuan finansial anda. Namun lagi-lagi anda tidak perlu bingung. Bagi anda yang memiliki modal yang tidak cukup besar, anda perlu melirik tanah-tanah dipinggiran kota yang masih memiliki harga yang cukup terjangkau dengan prospek yang tak kalah menarik. Harga tanah dipinggiran kota masih lebih murah dibanding di kota-kota besar. Salah satu tanah kavling dengan prospek menjanjikan adalah Granada Land. Granada Land merupakan tanah kavling eduwisata yang berlokasi di Bogor Timur. Terletak ditengah kawasan wisata, membuat Granada Land diminati ribuan investor tanah dari beragam kota di Indonesia. Selengkapnya tentang Granada Land. Dengan beragam keuntungan dan resikonya, apakah cukup menjanjikan bagi anda untuk berinvestari tanah kavling ? Pilihan investasi tetap ditangan anda.  

Daily Islam

Macam Macam Akad Transaksi Muamalah Dalam Ekonomi Syariah Islam

Dalam ekonomi syariah, akad transaksi menjadi faktor krusial dalam menjalankan ekonomi syariah. Namun, pada umumnya, belum banyak masyarakat tahu secara detail macam macam akad transaksi dalam ekonomi syariah. Maka pada artikel kali ini Isykariman Property Syariah akan berbagi mengenai jenis akad transaksi dalam hukum syariah Islam. Akad dalam Islam memiliki arti Perjanjian. Secara harfiah, akad adalah serapan bahasa arab dari al-‘Aqd merupakan bentuk lain atau masdar dari kata ‘Aqada dan dalam kata jamak menjadi Al-‘Uqud. Al-‘aqd memiliki arti perjanjian, perikatan, dan al-ittifaq atau permufakatan. Dalam bahasa Indonesia, kata akad lebih sering ditemui dalam pernikahan. Namun sebenarnya tidak hanya sebatas itu. Istilah akad juga sering digunakan dalam transaksi ekonomi berbasis Syariah. Lantas, apa saja jenis jenis akad ini ? Pembagian Akad Akad Shahih Jika semua proses transaksi terpenuhi dengan lengkap tanpa ada cela atau cacat. Maka, akad tersebut dinyatakan sah dan bisa anda lanjutkan. Akad shahih ini juga terjadi karena : Nafiz : Akad yang memang bisa terjadi karena syarat dan rukun sudah terpenuhi secara sempurna. Mauquf : Akad yang bisa dilakukan oleh seseorang namun dirinya tidak memiliki kuasa atau tidak sanggup melaksanakannya. Misalnya akad yang digantikan oleh wali berupa keluarga inti karena yang bersangkutan berhalangan seperti sakit. Akad Tidak Shahih Jenis akad yang kedua ini sudah jelas tidak sah karena tidak mencukupi persyaratan akad yang shahih. Pembagiannya adalah: Batil : Tidak sah karena memang ada syarat dan rukun yang tak terpenuhi. Fasid : Menjurus pada penipuan sehingga akad tersebut tidak bisa menjadi akad yang sah. Dari dua pembagian umum tersebut. Masih ada macam-macam akad lainnya yang biasa kita pakai dalam transaksi syariah. Selain ada akad, proses transaksi dalam hukum Islam juga harus memenuhi beberapa kriteria berikut : Harus ada kedua belah pihak yang akan melakukan transaksi. Produk atau barang yang anda transaksikan halal. Masing-masing pihak ridha dan ikhlas. Baca juga : Memahami Syarat dan Rukun Jual Beli Dalam Islam, untuk mengetahui lebih lengkapnya. Macam Macam Akad Muamalah Dalam Islam Ada banyak jenis akad yang bisa anda pelajari dan ketahui, yaitu: Mudharabah Biasanya akan terpakai ketika ada transaksi pembiayaan dalam konteks syariah. Dimana pemberi modal akan mendapatkan keuntungan dari modal yang mereka berikan dan yang menggunakan modal harus bisa mengelola modal tersebut dengan baik. Salam Ini adalah transaksi akad seperti proses COD. Pembeli akan memberikan uang terlebih dahulu setelah mengetahui barang atau produk yang akan mereka beri sesuai dengan rincian yang ada. Murabahah Proses jual beli yang biasanya sudah sama-sama mendapatkan kesepakatan oleh kedua belah pihak. Dan, pembeli akan membayar sesuai dengan perjanjian awal (cicil). Istishna’ Sama dengan akad Salam. Dimana penjual dan pembeli sama-sama menyepakati berbagai aturan jual beli. Pembayaran bisa saat barang sudah datang atau sebelum barang datang. Musyarakah ini adalah jenis akad yang akan dilakukan oleh banyak pihak. Nantinya, setiap pihak akan memberikan modal ataupun setoran dana kepada satu pengelola dan keuntungan akan dibagi bersama secara adil. Ini adalah sistem tanam modal. Baca Juga : Mengenal Bahaya Riba Dalam Islam dan Cara Mengatasinya Ijarah Persiapan dana untuk adanya transaksi sewa menyewa. Bukan transaksi jual beli. Sehingga kepemilikan tidak akan berubah. Qardh Ini merupakan akad pada transaksi simpan pinjam. Pemilik modal akan memberikan pinjaman dan penerima harus membayarkan modal tersebut secara berkala sesuai dengan kesepakatan awal. Wadiah Ini adalah akad transaksi ketika suatu pihak akan memindahkan dan menitipkan dana atau barang pada pihak kedua. Walakah Jenis akad ini nantinya akan menjadi bukti atau pengikat kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Misalnya ketika anda menggunakan faktur atau invoice. Demikianlah pembahasan tentang berbagai macam akad dalam proses transaksi dalam Islam. Sebenarnya, jika kita bahas lebih dalam masih ada banyak banyak faktor dalam ekonomi Syariah Islam selain jenis akad lainnya.

Scroll to Top